
Wednesday, May 20, 2009

Boediono, Upaya Melestarikan Dinasti Demokrat
Memilih pendamping dalam menghadapi Pilpres 2009 bagi seorang SBY memang terbilang tidak mudah. Terdapat 19 nama yang telah masuk, demikian kabar yang umum diperdengarkan ke publik. Tersebutlah pada akhirnya nama Boediono. Sebuah nama yang tidak pernah disangka dan begitu asing dalam dunia perpolitikan Indonesia. Betapa tidak, dia memang bukan seorang politisi.
Berbagai reaksi diperlihatkan oleh partai mitra koalisi dan berbagai jawaban pun diberikan untuk menjelaskan alasan-alasan dibalik keputusan besar itu. SBY perlu pendamping yang memahami ekonomi, sangat sulit jika memilih orang partai yang penuh dengan conflict of interest, Boediono yang paling minim penolakannya, menjaga soliditas partai-partai pendukung dengan tidak memilih calon dari partai, dan lain sebagainya. Kumpulan jawaban normatif yang memang masuk akal atau barangkali dicari-cari jawaban yang memang bisa masuk akal?
Hal yang tentunya tidak dikemukakan ke publik adalah pertimbangan politis. Pertimbangan ini pasti ada dan bahkan mungkin jauh lebih dominan dibandingkan pertimbangan-pertimbangan normatif lainnya. Seperti diketahui, jikalau terpilih lagi, maka ini adalah periode terakhir dari jabatan kepresidenan SBY. Hal itu menyebabkan Partai Demokrat sudah tidak lagi memiliki figur yang dapat dijual untuk Pemilihan Presiden 2014. Bisa dibayangkan jika SBY memilih Cawapres dari Parpol, maka Cawapres itulah yang nantinya akan “Berjaya” pada pemilihan presiden 2014. Hemat penulis, pertimbangan inilah yang jauh dipikirkan oleh SBY dan Demokrat dalam menentukan cawapresnya. Memilih cawapres dari kalangan parpol ibarat memelihara anak macan yang bisa menjadi ancaman dan membinasakan pemeliharanya.
Sebagai partai politik, Demokrat tentunya ingin selama mungkin menjadi pemenang dan memegang kekuasaan. Sempat terpikir tentunya oleh mereka bahwa cawapres SBY sebaiknya dari Demokrat juga agar mereka memiliki figur pengganti SBY nantinya. Namun itu bukan permainan politik yang cantik. Tentu akan jauh lebih banyak penolakan jikalau capres dan cawapresnya dari Demokrat. Sehingga pertanyaan besar yang sulit dipecahkan oleh Demokrat dan SBY menurut penulis sebenarnya adalah: Siapa cawapres SBY yang paling dapat menguntungkan bagi Demokrat dan dapat diterima mitra koalisi?!
Memilih cawapres dari kalangan non-parpol atau pun dari kaum professional barangkali adalah jalan tengahnya. Tapi bagaimana hal tersebut dapat menguntungkan bagi Demokrat?
Boediono hampir bisa dipastikan akan menjadi “the rising star” pada pemilu 2014 jikalau terpilih bersama SBY dalam pilpres 2009 ini dan hal tersebut dimungkinkan atas “jasa besar” SBY dan Demokrat. Dia mungkin belum punya motivasi politik pada saat ini, tapi siapa yang dapat menjamin bahwa itu akan terus berlanjut pada 2014?
Dia mungkin belum punya kendaraan partai pada saat ini, tapi siapa yang dapat menjamin bahwa Demokrat tidak akan merekrutnya menjadi kader seperti yang mereka lakukan pada Andi Mallarangeng? Jangankan yang tidak memiliki parpol, yang sudah menjadi ketua parpol pun dapat terekrut!
Pemilihan Boediono sebagai cawapres SBY sederhananya dapat dikatakan sebuah investasi Demokrat untuk menjaga keberlansungan kemenangan mereka pada 2014. Sebuah upaya untuk mempertahankan Dinasti Demokrat di Indonesia.

Posted @ [
Wednesday, May 20, 2009]


Tuesday, April 10, 2007

Bersatu Rapatkan Barisan
Derap perjuangan pemenangan pilkada kian digaungkan diseluruh pelosok wilayah Jakarta. Derap itu tetap dikobarkan ditengah derunya desing perlawanan dari mereka yang tidak rela akan adanya perubahan.
Derap itu seolah tak memandang banyaknya musuh dan rintangan yang menghadang. Derap itu hanyalah melihat sebuah tujuan dan kuatnya azzam untuk memberikan yang terbaik bagi kejayaan sebuah negeri. Meski dengan menghabiskan seluruh jiwa, raga, dan asa ini.
Peluh ini hanyalah awalan. Sebuah pengorbanan yang terlalu jauh untuk disandingkan atas indahnya kemenangan. Bukan karena kami menginginkan, namun karena kami harus. Ya! kami harus memenangkannya demi tersebarnya kebaikan, terciptanya kesejahteraan, dan indahnya keadilan!
Sungguh! Kenistaan syahwati tak kan pernah rela diri ini untuk disibukkan dengan perjuangan. Sebuah perjuangan yang sedianya tertolak meski diatas putusan para qiyadahnya. Namun, bukan karena kecewa, bukan pula karena tlah melunturnya kecintaan. Tak lain hanyalah sebuah naluri kemanusiaan dari pribadi yang penuh kelemahan.
Bukankah pula tlah terikrar janji setia terhadap jamaah?
Sebuah ikrar yang dipersaksikan oleh manusia dan Sang Penciptanya!
Tidakkah teringat atas kebanggaan menjadi prajurit di barisan terdepan?
Sebuah barisan yang terdahulu merasakan akan manisnya perjuangan.
Sebuah amanah yang tidak kalah menjanjikan atas beribu kebaikan.
"Barisan mujahid melangkah ke depan
Tanpa rasa takut menghalau rintangan
Cahya Islam kan selamanya memancar
Dengan darah kami sebagai pembakar"
Teruntuk mereka yang masih terlena, sudah saatnya derap ini membangkitkan kalian. Tak usahlah kesibukan dunia kembali menjadi alasan, apalagi dijadikan sebuah tujuan akhir yang melalaikan atas kewajiban.
Kini, sebuah tujuan mulia tlah terikrar untuk diperjuangkan, dan rapatnya barisan merupakan keniscayaan tuk meraihnya. Lihatlah! Cahya agama-Nya tlah meredup. Jadilah kalian dalam barisan yang menyilaukannya kembali, meski darah inilah sebagai pembakarnya.
"Saatnya Melayani dan Memimpin Ibu Kota"........... Ayo Benahi Jakarta!

Posted @ [
Tuesday, April 10, 2007]


Saturday, December 16, 2006

Re: Menyapa Cinta
Hari ini kami juga ingin berbicara tentang cinta.
Kami selalu menganggapnya sebagai sebuah percikan kecil dari kebesaran-Nya untuk dianugerahkan kepada manusia. Tak lain agar dunia ini terasa lebih indah untuk diarungi. Agar beban terasa lebih ringan dengan saling berbagi. Agar pribadi senantiasa mengambil hikmah dengan penuh kesabaran dalam setiap usaha untuk meraih keridhoan-Nya. Laksana anak kecil yang masih belajar berjalan, kami pun sesekali terjatuh untuk kemudian berdiri kembali.
Bahasa cinta tidak semerta-merta menghapus semua pedih, terkadang tetap ada duka di tengah-tengah keindahan cinta. Tetapi pedih itu menjadikan kami untuk saling belajar mendewasakan diri dan menjadikan langkah yang akan kami tempuh senantiasa diawali dengan penuh kehati-hatian. Mengapa selalu ada yang menuntut diberi dan saat ia tidak dapati lalu ia menyalahkan cinta? Kami rasa karena ia belum memahami arti cinta yang sesungguhnya.
Tangan kami telah lebih dulu membuka pintu ke dalam ruang yang penuh akan cinta. Ada getaran hati disana pada setiap langkahnya. Ya, itulah cinta. Kami telah tahu bagaimana kenyamanan timbul bersamanya dan bagaimana ujian kian datang diatas rasa itu. Tetapkanlah cinta yang agung hanya untuk-Nya. Layaknya sebuah usaha yang tak kan pernah ada penyesalan.
Jadilah orang yang penuh dengan cinta. Mereka yang dicintai dan senantiasa mencintai dengan keikhlasan hati. Agar semesta ini semakin penuh dengan cinta, dan kalian menjadi bagian dari semesta itu.
Sesungguhnya orang yang paling dicintai adalah orang yang memberi cinta paling besar bagi orang-orang terdekat mereka. Mereka yang memang seharusnya dicinta.
(Sebuah kesimpulan dari perjalanan cinta kami).
Dipersembahkan untuk Ratna dan Teguh di hari bahagia kalian (23 Desember 2006)
-the best new comer couple that make us jealous of the year-
Baarakallahu lakum wa Baraka Alaykum wa Jama-a Baynakuma fi Khoirin
(Tulisan ini sebagai balasan atas tema serupa yang dihadiahkan untuk kami)

Posted @ [
Saturday, December 16, 2006]


Sunday, December 03, 2006

Seharusnya Aa Semakin Jadi Teladan
Banyak orang yang cukup terkejut dengan keputusan Aa untuk menikah lagi. Tapi bagi saya yang lebih mengejutkan lagi justru adalah reaksi dari orang-orang terhadap keputusan Aa tersebut. Terlebih lagi reaksi dari para ibu-ibu yang memang selama ini Aa terbilang cukup dekat di hati mereka.
Sabtu sore ketika membaca berita itu di detiknews.com sebagian besar isinya menyayangkan keputusan Aa. Bahkan sampai ada yang mengirim sms dengan kalimat yang kurang sepantasnya dialamatkan ke Aa. Semoga setelah orang itu melihat konferensi pers Aa dan Teteh di minggu pagi ini dia dapat lebih memahami keputusan Aa dengan lebih proporsional.
Kalau boleh berkomentar, saya mah justru mengucapkan selamat buat Aa. Selamat atas keputusannya yang dengan itu Aa memiliki amanah baru dan semoga Aa selamat dalam menjalani amanah itu.
Kenapa image orang yang beristri lebih dari satu di masyarakat kita begitu negatif? Karena memang selama ini orang2 yang melakukan poligami bukanlah yang seperti Aa. Modal memiliki kekayaan untuk berbagi tidaklah cukup melegalitas seseorang untuk dapat melakukan poligami. Namun harus ada modal keilmuan dan pemahaman yang memadai sehingga tidak semata-mata hanya untuk mengedepankan hawa nafsu. Jadi tidak cukup dengan bermodalkan sebagai pengusaha kaya, tapi mesti pengusaha yang bermentalkan ulama.
Teh Nini ikhlas beneran di hati ato ikhlas di mulut aja yah? Hehehe. Ga usah dipusingin perkara yang ghaib menurut kita. Yang jelas, jangan disamakan Teh Nini dengan perempuan kebanyakan seperti halnya kita nih, kaum pria, tidak menyamakan Aa dengan pria kebanyakan.
Kalaupun ada yang disayangkan dari pernikahan kedua Aa mungkin jarak tempat tinggal yang terlalu dekat kali yah antara istri pertama dan kedua. Sama2 masih dilingkungan DT. Begitu pendapat istri saya. Sok atuh Aa segera dipisahin agak jauh, hehehe. Klo masalah kepribadian Teh Rini yang desas-desusnya agak kurang diterima publik, kita mah percaya aja sama Aa yang pasti memiliki pertimbangan jauh lebih dalam dari yang orang kira sebelum memutuskan meminang Teh Rini.
Akhir kata kami panjatkan doa buat Aa dan Teh Rini: Baarakallahulakum wa baraka alaykum wa jama-a baynakuma fi khoirin. Buat Teh Nini, semoga keridhoan Alloh senantiasa menaungi Teh Nini atas jihadnya yang luar biasa.

Posted @ [
Sunday, December 03, 2006]


Sunday, November 19, 2006

No Need Bush to Survive!!
He might think that he is the one who can give us prosperity.
He might think that he is the one who can make changes to a better life for us
He might think that he is the one who can assure the investor to trust us
Well, You are not!!
You mean nothing to us but piece of dirtiness!!
Far distance between your country and ours has made us not too bother with your existence in this beautiful world
But now, you want to make a dramatic change
Do you think you can step by to our land and make it an easy thing for us?
Read our Lips: You are not welcome here for now and ever!!
Or maybe you have blind?
Can you see how many of us refuse your presence here?
Can you see that we always against your policy to the world?
You should think that you are the disaster for this world
You should think how much life you have took just for the name of democracy
before you think that we are wrong!!
You mean nothing to us but the real terrorist!!
But do not too worry, Mr. Bush
You still can give us the meaningful of living in a peace world
by the time you leave this world for good.
The question is:
Could you do that for us soon?
Or should we do that for you?
Hopefully one of us can.

Posted @ [
Sunday, November 19, 2006]

Mereka Hanya Bicara
Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan". (QS 9:105)
Upaya untuk senantiasa merapatkan dan mengokohkan barisan dakwah memang tidaklah mudah. Ada saja kendala yang mengemuka. Adalah sesuatu yang sewajarnya jika kendala tersebut merupakan rintangan dari luar barisan, namun justru sangat disayangkan jikalau itu berasal dari barisan dakwah sendiri.
Berdakwah dalam organisasi dengan objek yang bervariasi sepintas memang laksana sebuah seni. Sesuatu yang harus dipadukan untuk dapat menghasilkan keindahan. Namun yang patut dicermati, perbedaan yang ada pada satu sisi juga bisa menjadi sebuah benih keretakan. Potensi kecil yang terlihat bukan berarti tidak akan menjadi batu sandungan yang besar manakala dianggap angin lalu.
Kita ingin mewujudkan sebuah tatanan barisan yang ideal tapi yang kita dapati adalah sebuah barisan dengan seperangkat realitanya.
Dia adalah seseorang yang cukup dipandang dalam barisan ini, tapi mengapa kita mendapati dia hanya seseorang yang penuh dengan kata dan kalimat? Padahal hanya kerja yang akan dilihat-Nya. Siapa yang memberi usul, dialah mas’ul nya. Kaidah seperti itu mungkin tidak pernah ada dalam kamus pribadinya.
Semestinya cukuplah setiap orang mendengarkan kekurangannya meski kadang itu berasal dari orang lain. Telaahlah, jikalau itu memang benar bukankah sebuah pemberian yang tak ternilai untuk perbaikan?
Semestinya cukuplah barisan yang senantiasa berusaha untuk lurus ini direcoki oleh kadernya yang menjadikan popularitas sebagai tujuannya. Popularitas untuk didengar. Popularitas untuk dipandang sebagai orang yang senantiasa berkontribusi aktif dalam mengusulkan gagasan.
Semestinya cukuplah beristighfar atas semua kata yang tak pernah terwujud dalam kerja!! Untuk mereka yang hanya bisa berbicara!

Posted @ [
Sunday, November 19, 2006]


Friday, August 04, 2006

Negara Besar yang Tak Bernyali
Agresi militer Israel tak hanya memakan korban jiwa masyarakat Libanon dan Palestina saja. Ternyata salah satu warga Negara Indonesia pun telah tercatat sebagai korbannya. Pahlawan Devisa, itulah gelar yang diberikan pemerintah kepada almarhumah Siti Maimunah, seorang TKI asal Sukabumi.
Namun begitu, Pemerintah Indonesia sepertinya sangat memaklumi warganya yang menjadi korban. Tidak terlihat adanya reaksi keras dari pemerintah atas nyawa salah satu warganya. Seolah tak berharga.
Padahal, agresi negara biadab Israel itu dengan dalih demi membebaskan dua nyawa tentaranya yang disandera. Mereka lebih menghargai arti sebuah nyawa dan harga diri bangsa dibandingkan kita.
Padahal, kita adalah Negara besar. Reaksi pemerintah dari sebuah Negara besarkah ini? Hanya sekadar mampu memberikan gelar kepahlawanan. Sebuah ironi dari sebuah kebesaran ukuran Negara yang tak diiringi kebesaran nyali.
Bahkan mestinya kita bisa lebih berperan dari sekadar menyiapkan pasukan perdamaian. Tidak salah memang ketika sebagian warga Negara ini yang merasa tidak puas akan reaksi pemerintah malah mendirikan posko jihad untuk Libanon dan Palestina. Semoga itu bukan sekadar niatan untuk memuaskan diri atas reaksi pemerintah, tapi memang merupakan panggilan hati dan keimanan.
Indonesia, sampai kapankah kau akan seperti ini? Tak heran jika Sang Rabb senantiasa memberikan azabnya. Tak pernahkah kita berpikir mengapa gempa bumi tidak 4JJ turunkan saja di Negara Israel sana? Kaum yang nyata-nyata telah dilaknat-Nya. Tapi Ia menurunkannya justru di Negara kita. Sebuah Negara dengan penduduk muslim terbesar. Barangkali kita memang dirasa lebih hina dari mereka di mata-Nya. Na’udzubillah. Wallahu’alam.

Posted @ [
Friday, August 04, 2006]


Sunday, July 23, 2006

Heroic but So Stupid
Couple days ago, I went home from my campus. Just like an ordinary afternoon, there’s nothing special about the traffic. Not so optimistic to expecting a wide and easy traffic in that office hour of course. Lucky me for riding my “smashy”. Yup, I called my motor cycle with that name.
Well, that clarity unfortunately should be broken up when I got at Pasar Minggu Raya street. Suddenly my concentration was focused to a small-little-thing in the middle of the dense traffic. I saw a pussy cross down in front of my bike and it directly hide below a car. I am wondering what was that pussy thinking at that time. Didn’t he realize how danger it was?
I was imagine the angel of death soon will took his life when the car move. Crash into pieces. That what he will become. Smooth bones and blood will spread every where.
But I cant let that happened!!
Suddenly my heroic nature came up. I must save that pussy!!
(The sound at my brain was something like that approximately).
I stop my bike, and I step to its foot to make it stand. I run into the car and took the pussy from its ground. I got it!! But when I turn around I saw my bike drop off. I was wondering how that could happen. Because I am sure I have make it stand before I left it. Well, I wasn’t think much at that time. I put the pussy at the side of the street and directly took my bike from the ground.
A little scratch at the front lamp and back side of my bike were the results. I take that as memory from saving a pussy. Please, don’t try this at home.

Posted @ [
Sunday, July 23, 2006]

Israel Must Die !!
Lihatlah, kaum kera yang dilaknat Allah telah berulah kembali. Menunjukkan siapa sejatinya mereka dan apa yang ada dibalik hati-hati mereka. Sebuah kebencian yang terpendam kini telah tersalurkan dengan membunuh mereka yang di Palestina dan Libanon. Puaskah mereka? Yakinlah wahai saudaraku semua, itu hanyalah permulaan. Maka tak terbayangkan bagaimana akhirnya bukan?
Dunia terasa tidak adil? Dengan keberpihakan mereka terhadap aksi para kera itu? Tak usahlah heran, mana ada seorang musuh memberikan keadilan kepada lawan bebuyutannya.
Kekuatan moral, sebuah kelebihan barisan pejuang Allah yang tidak dimiliki oleh mereka yang berusaha menghancurkannya. Kami bertempur dengan keberanian yang tinggi dengan kematian sebagai cita tertinggi. Kami berupaya menggapai kematian itu setara dengan kalian mempertahankan kehidupan kalian.
Umat ini memang banyak dan bercerai-berai. Tidak tampak lagi izzah mereka dihadapan para musuhnya. Telah disibukkan dengan kegiatan memecah-belah dan mengedepankan kepentingan pribadi. Laksana buih di lautan. Bahkan ketika saudara mereka dihinakan dan dihancurkan, tetap tidak ada taring yang tampak dari umat ini. Sampai kapankah wahai saudaraku??
Tidak terlihatkah betapa hancurnya negeri kaum muslimin itu? Luluh lantak dengan pesawat tempur kaum kuffar. Semestinya sudah cukup kita hanya menyaksikan. Bukankah kita punya tangan?
Saatnya tuk saling memegang erat saudaraku. Kepalkan tangan, langkahkan kaki kita bersama tuk mewujudkan kedamaian di bumi ini dengan menghancurkan mereka. Tidak lain karena mereka memang layak untuk hancur. Israel must die !!

Posted @ [
Sunday, July 23, 2006]


Friday, May 26, 2006

Aksi Sejuta Umat, Prototipe Persatuan Umat
Tidak selamanya suara MUI “diacuhkan” umat Islam di Indonesia. Bukan sekadar acuh, namun kadang dipertentangkan. Bahkan dipertanyakan eksistensi dan kapabilitas MUI sebagai wadah perwakilan ulama di Indonesia.
Teringat beberapa waktu yang lalu ketika salah satu fatwa yang dikeluarkan adalah mengharamkannya gerakan islam yang liberal. Berbagai gugatan dan protes pun dikeluarkan dari orang-orang yang merasa gerah akan fatwa tersebut.
Namun tidak begitu halnya pada seruan aksi sejuta umat dalam mendukung RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi pada tanggal 21 Mei 2006. Sebuah momen yang diselenggarakan oleh MUI itu ternyata mendapatkan dukungan yang sangat luas dari umat Islam. Berbagai latar belakang pergerakan Islam yang berbeda, organisasi massa, mahasiswa, perkumpulan pengajian, dan bahkan anak-anak kecil bersatu tumpah-ruah sepanjang jalan menuju gedung DPR/MPR RI.
Sebuah gambaran ideal dari umat Islam. Sudah begitu lama umat ini tidak terlihat kekuatannya oleh karena terpecah-belahnya. Kuantitas yang besar namun dengan kelemahan yang sangat. Begitulah gambaran umat Islam di Indonesia. Sebuah gambaran yang menyedihkan pada agama yang mulia ini. Idealita dan realita.
Umat bersatu karena memiliki satu pandangan terhadap satu tema yang diusung. Itupun setelah terlihat indikasi adanya berbagai perlawanan yang kuat dari berbagai pihak yang menolaknya. Ironis sekali memang, ternyata mereka yang menjadi bagian dari umat ini pun ada yang menolaknya. Menyedihkan, memalukan, dan membinasakan.
Tekanan. Terkadang orang bisa melakukan apa saja ketika dalam situasi tertekan. Tidak salah pastinya karena begitulah karakter umat Islam kebanyakan saat ini. Disatu sisi, aksi sejuta umat bisa dikatakan prototipe dari bersatunya umat Islam di Indonesia, namun disisi yang lain kita melihat bahwa umat Islam harus ditekan terlebih dahulu agar kesadarannya timbul setelah pemahaman terhadap urgensi tema tersebut telah mereka miliki.
Jadi mungkin situasi dan kondisi seperti itu pulalah yang benar-benar dapat kondusif untuk mengembalikan ketinggian kalimat 4JJ di bumi Indonesia ini. Tugas besar bagi mereka yang mengaku para da’i untuk memberikan pemahaman akan kekhalifahan Islam untuk kemudian menekan umat ini akan urgensinya. Wallahu’alam.

Posted @ [
Friday, May 26, 2006]

The New World Idol
Kedatangannya yang singkat di Indonesia menggoreskan sebuah kisah kecintaan yang kuat terhadap pemimpin dambaan umat itu. Masih seperti ciri khasnya yang sederhana dan penuh dengan senyum yang teduh. Atas izin-Nya, kita dapat berada pada satu jamaah sholat jumat di Masjid Istiqlal Jakarta, 12 Mei 2006.
Sosok pemersatu umat, mungkin gelar itu layak pula disandangkan dipundaknya. Simbol perlawanan Islam terhadap hegemoni Barat, tentu sebutan itu hanya pantas diperuntukkan olehnya.
Mimpi apakah Indonesia sehingga orang yang bersahaja itu berkenan hadir ‘tuk silaturrahim dengan pemimpin dan warganya. Komitmen dan ikatan yang kuat, mungkin hal itu merupakan barang yang memang sangat langka sehingga ia merasa perlu untuk merajutnya dengan hadir disini.
Lihatlah, kami begitu antusias menyambut mu. Dengarlah pekikan takbir kami yang begitu bersemangat mengiringi sambutan yang kau berikan selepas shalat jumat. Bahkan Presiden kami sendiri pun seolah teracuhkan oleh jamaah atas sosokmu.
Semoga kami dapat senantiasa membuat mu kuat untuk semakin lantang mengatakan kebenaran dan meruntuhkan kezhaliman. Karena kami selalu bersamamu. Karena kami begitu mendukung dan bermimpi akan pemimpin sepertimu.
Umat yang dahaga seolah terpuaskan dengan kehadiran mu di dunia internasional. Kami yakin bumi Islam dimanapun akan dengan hangat dan gembira menyambut mu. Hari itu kami seolah melihat Islam sekaligus masa depannya. Masa depan yang 4JJ janjikan kembalinya kemuliaan Islam sebelum diakhiri-Nya siklus kehidupan dunia ini.
Ketika engkau beranjak pergi, kami seolah tak rela. Kami belum puas untuk bertatap muka denganmu. Kami sangat berharap engkau akan lebih lama dengan kami. Tapi kami yakin, masih banyak umat yang juga membutuhkan mu diluar sana.
Selamat berjuang!! 4JJ-kan selalu bersamamu. The New World Islamic Idol, The President of Republic of Islamic Iran, Mahmoud Ahmadinejad.


Posted @ [
Friday, May 26, 2006]


Saturday, May 06, 2006

Untuk Mu Palestina

Untuk mu, Palestina tercinta,
Kami penuhi panggilan mu.
Untuk mu, Palestina tercinta,
Kami ‘kan slalu bersama mu.
Telah nyata pada mereka yang terlaknat, sebuah kezhaliman besar. Tak usahlah kita mengangkat tema bahwa Amerika menerapkan standar ganda dalam kebijakan internasionalnya. Banyak orang yang sudah bosan barangkali jikalau alasan itu yang dikemukakan. Bukan karena tidak setuju, tapi mestinya kita tidak perlu heran lagi dengan apa yang mereka makarkan. Oleh karena satu hal, mereka adalah musuh !!
Lawan !! Hancurkan!!
Pernahkah kita membayangkan bahwasanya musuh itu hanya tertawa-tawa jikalau kita berteriak tentang ketidakadilan yang mereka lakukan?? Sampai kapankah kita ingin ditertawakan?? Sadarkah kita bahwa memang begitulah tabiat musuh. Jika kita tidak terlebih dahulu menghancurkannya, maka merekalah yang akan menghancurkan kita !!
Cukup sudah perlawanan terhadap mereka dengan “sindiran halus” dengan tema standar ganda. Saatnya melawan dengan tahapan berikutnya. Lawan dengan ancaman dan ketegasan !!
“Kalau Amerika jadi menyerang Iran, maka Iran akan menyerang Israel !!” Sekarang mari kita bayangkan raut wajah musuh-musuh itu jika pernyataan semacam itu yang muncul. Tersenyumkah mereka? Dapatkah mereka tertawa? Atau keberangan dan rasa amarah yang muncul pada mereka? Seolah kita memang harus yang mereka takuti!! Namun sayang, baru seseorang yang sekaliber dengan Ahmadinejad yang dapat mengatakan itu.
Dan kini Palestina,
Sebuah negeri tempat dilahirkannya Nabi-Nabi pilihan,
Sebuah kota yang disucikan,
Mereka telah demikian lama menodainya !!
“Kalau Amerika tetap menggalang kekuatan untuk menghambat bantuan terhadap pemerintah Palestina, sungguh kami akan menyita aset-aset perusahaan Amerika di Indonesia untuk kemudian disalurkan keuntungannya kepada pemerintah Palestina”. Sebuah kalimat dalam impian…
Tapi sebuah hal yang besar, kadang mesti diawali dengan impian. Dan kamilah orang-orang yang akan mengusung impian itu untuk menjadi kenyataan !!
Wahai saudara2 kami di Palestina !!
Harapan besar kami adalah bersama kalian berjuang disana. Menggapai syahid sebagai bentuk kemuliaan tertinggi, dan menghancurkan musuh-musuh 4JJ1 yang terlaknat itu.
Semoga keterbatasan kami dapat dimaklumkan oleh-Nya. Saksikanlah yaa Rabbana, kami telah memberikan apa yang kami bisa untuk saudara-saudara kami. Terlihat sangat kecil barangkali, namun tak terbendung niatan tuk bisa memberi yang jauh lebih besar.
Kuatkanlah yaa Rabbana, kekuatan para penolong-Mu. Lemahkanlah mereka yang menjadi musuh-musuh-Mu. Hancurkanlah !! Sesungguhnya yang demikian itu sangatlah mudah untuk-Mu. Jangan Kau jadikan hati-hati kami lunak terhadap mereka. Penuhilah rasa kasih sayang diantara kami agar dapat menggetarkan mereka atas keterpautan hati-hati kami.
"Dalam menyambut Aksi Solidaritas untuk Palestina oleh PK Sejahtera, ahad 7 Mei 2006, jam 08.00 s.d selesai, Bunderan HI"

Posted @ [
Saturday, May 06, 2006]


Saturday, April 29, 2006

She Will be Loved (2nd Version)
Finally, 4JJ1 got someone for you...
The one who will become your best friend for a life time.
Happiness.....yes, we really feel the same thing right? Aren’t we?
I know you’ll say “yes” someday..
But when the person is right...
And now, the hero just arrive.
Thanks to 4JJ1 for giving both of u an easiness in doing the process..
Just keep it clean allright??
Month of June is not a long time to be patient..
But...
It will gonna change many things also...
Free as a bird...
Not anymore, dear...
You will become a very nice bird who will think deeply,
Before you can use your wings to fly...
He’s not a perfect person for you?
Well, nobody’s perfect
Our big job is how far we can accept our soulmate.
Finally,
You gonna become a person who will invite another person...
Not those who always become a guest... (hehe...)
Well,..
We will wait for the June..
Just feel how it is like to be loved by someone...
Cause you’ll be loved..
Congratulation for both of you...
And again,
Semoga 4JJ1 memberkahi kalian, menjadikan kalian berkah,
Dan menghimpun kalian dalam kebaikan...

Posted @ [
Saturday, April 29, 2006]


Wednesday, April 26, 2006

Kembaran ???
“Sis…….. kamu tuh punya kembaran yah??” Beberapa kalimat tanya itu menghampiriku beberapa kali. “Kembar?? Darimana? Wong anak perempuan satu2nya.”
"Gw kira adek loe sis, mirip banget.” “ Iyah Sis, aku kemarin salah negor lho jadi malu.”
Yang mana sih, rasa ingin tahuku menyeruak.. Itu lho, anak baru, mirip banget.
Hmm, coba liat…
Apa yang mirip yah?
Iyah anak baru itu membuatku jadi punya kembaran. Seringkali teman2 salah panggil, bahkan ada yang menduga2 tidak baik (Masalahnya jilbabnya beda…:p )
Selidik punya selidik, ternyata dia tuh orang Sunda, pantes kita ada kemiripan. Sama2 punya darah Sunda. Soalnya, dulu2 tuh pernah ada calon cover girl dari Bandung yang mirip sama aku (he he he … ehem ehem .. hueek) sampai yang menemukan gambar Cover Girl itu rela gunting foto di majalahnya untuk ngasih tau.
Mungkin yang bikin mirip tuh mata, hidung sama bentuk mukanya yah … eh sama cerewetnya deh (hi hi hi).
But anyway, kita berdua itu sama imutnya.
Mo liat fotonya??
Neeeh.. mirip tidak? 

Posted @ [
Wednesday, April 26, 2006]


Monday, April 24, 2006

Akhwat Maunya Apa Seh??
Kali ini mao coba bahas ttg jenis makhluk yang satu ini. Tidak akan pernah selesai... mungkin itu kalimat yang bisa menggambarkan arah pembahasan dengan tema akhwat. Well, i'll take that risk !!..
Tersebutlah seorang akhwat A. Secara usia memang sudah terbilang cukup, bahkan mungkin 'agak' kelewatan untuk menikah. Bukan tak ingin, tapi sudah beberapa kali proses yang dijalaninya dgn beberapa ikhwan gagal. Kecewa.. karena cinta... eh, karena proses yang gagal maksudnya.
Mungkin karena kecewa yang begitu dalam dan tidak diiringi dengan prasangka yang baik, sang akhwat pun mulai banyak komplain ttg makhluk yang bernama 'ikhwan'. "Ternyata ikhwan itu suka pilih-pilih yah",... "ternyata ikhwan itu lebih mementingkan tampilan fisik yah", "emangnya ana jelek yah?", "ternyata ikhwan juga bisa mengecewakan seperti ini yah"... dll. Bahkan sampe 'ngancem' segala. "Ana mao pindah ke salafy aja klo gini ah". Gubrakss !!! Ngga usah gitu-gitu amat kali mbak.... "maksud loe??" hehe...
Namanya jg berislam, apa-apa ngga usah terlalu berlebihanlah. Jangankan dlm hal kekecewaan, dalam beribadah pun ngga usah berlebihan.
Jadi gitu nih mbak? ikhwan ngga boleh milih-milih? pokoknya setiap ada yang mau proses, apapun kekurangan dari akhwatnya tetep mesti ditelen mentah-mentah ama si ikhwan?? bener niy??? Jadi yang penting bisa menerima apa adanya?? yakin?? siip... bungkus deh klo gitu.
Selang beberapa waktu, si akhwat itu ketemu dengan ikhwan lain, sebutlah ikhwan B (bukan ikhwan baharudin lho yah..hehe). Ini ikhwan sebenernya udah pernah dia kenal sebelumnya, tapi tidak ada yang spesial diantara mereka kecuali hanya kenal saja. Singkat kata, ternyata si Ikhwan memutuskan untuk berproses dengan si Akhwat. Nah lho??
Well, klo diliat dari keadaannya, si ikhwan sih emang masih keliatan beberapa kekurangan yang 'ngga sebanding' dengan si akhwat. Tapi namanya jg usaha, siapa tau?? Kali ini si akhwat dihadapkan pd situasi yang berbeda dari yang ia biasa hadapi ketika proses (red: biasanya kan ikhwannya yang memutuskan ngga lanjut karena bbrp pertimbangan, yang bisa jadi itu adalah kekurangan sang akhwat).
Dan ternyata...Sang akhwat MENOLAKnya !!luar biasanya lagi, jawaban dari dia pun terbilang singkat. Seolah-olah tanpa pikir panjang pun dia langsung men-cap tuh ikhwan memang bukan tipe nya!! Gubraks lageee!!
Kali ini sang ikhwan:"ternyata, akhwat itu suka pilih-pilih yah"..."di rumah antum ada tambang gede ngga? ana pinjem dong"hehe.. mo ngapain?? bikin jemuran??Dengan begini, bungkusan yang tadi kita ambil lagi, kita keluarkan isinya, dan kita buang jauh-jauh. Ternyata akhwat ato ikhwan sama aja kan? suka milih-milih... ya jelas boleh dunks, namanya jg nyari temen sehidup semati. Jd ngga usah tema itu yang diusung untuk mendiskreditkan ikhwan ato akhwat deh mendingan... Yah, you knowlah apa yang mesti diterapkan dalam proses pilih-memilih.
Jadi, ikhwan dan akhwat maunya apa seh???

Posted @ [
Monday, April 24, 2006]


Saturday, April 22, 2006

A Man Without Heart
The title looks so scary right?but that's fine... this is my own blog anyway..i can write everything that i want..But it doesn't mean that's all about me,it could be something that i saw, i heard, or i felt.Shall we begin???...------------------------------------------------Have you ever felt to become a hero?or maybe people think that you are the hero for him,but you may not realize...To become a hero means you should done something that save him...save his life.. or save his way of life..That could be done in many tools,by the words, or by the act..you can choose which one you expert on it.Hero...Believe it or not, thanks a lot for saving me..without you, i may not realize how much i have hurt some one else..every things i have done were covered by some illusional happiness..thank you for listening,..and for giving me your opinion...and also for tremendous act you have done...You save me from a man without heart,to become a man who learn to mend the pieces of his heart..that means a lot to me..cause i need that to face a better life..But just like an ordinary hero,you dont mention that...you're not pursue me to do something to pay it.you just thing that's already become your part..Now I am trying hard to become a better man..A man without fear but to God,A man with best effort to become,A man with heart...Not for make you happy to see my changes,but it's all for me...and for the people i love..and for the people who love me...

Posted @ [
Saturday, April 22, 2006]


Wednesday, April 12, 2006

She Will be Loved...
Pujian memang hanya untuk-Nya,
Yang telah menciptakan manusia dengan berpasang-pasangan,
Sebagai salah satu tanda kebesaran-Nya…
Bulan April ini, Dia tlah begitu banyak menunjukkan kembali kebesaran-Nya..
Sedikit lebih banyak dari bulan-bulan sebelumnya…
Senyuman, tersipu malu, wajah yang memerah, bahkan sampai istilah “top secret” atas undangan pun menghiasi peristiwa di bulan April ini…
Hmm… mengaku jadi panitia,
Ternyata yang dipanitiain…
Wahai saudara/i ku sekalian….
Tak ada kata lain yang pantas terucap dari hati ini melainkan,
Semoga Allah memberkahi kalian, menjadikan kalian berkah, dan menghimpun kalian dalam kebaikan…
Pernikahanlah yang telah memuliakan wanita,
Sekaligus pijakan yang membawanya ke medan baru perjuangan…
Kebutuhan untuk mencintai dan dicintai…
Yang lebih dari sekadar persaudaraan seiman…
Melainkan kecintaan yang sepenuhnya dan tanggung jawab suci atasnya…
Pernikahan,..
Yang dengannyalah kaum wanita akan dicintai dengan semestinya…
She will be loved…
And she really really will be loved…
And for the guys,…
Let’s start to love someone :)
Notes:
Congratulations for Mbak Dewi (kakaknya Lily), Ukh Sopi Fidriani (PNJ 99), Akh Iqbal Irwansyah (PNJ 99), Ukhti Ire (PNJ 99), Cecep Setiawan (FE Ekstension), Bati Lestari (DPRa PKS Pangkalan Jati Baru), Maulani dan Nanang (AK PNJ 99).

Posted @ [
Wednesday, April 12, 2006]


Wednesday, January 25, 2006

Ya Allah, Lindungilah Ahmadinejad
Pagi ini, ketika membaca salah satu berita di internet, saya sangat terkejut dengan judul yang tertulis, “Ahmadinejad Jadi Sasaran Serangan Bom”. Perasaan marah, dan khawatir yang bercampur dengan sedih pun langsung merebak di relung-relung hati. Tidak terasa, kekaguman terhadap profil beliau ternyata telah menumbuhkan kecintaan yang mendalam terhadapnya. Kecintaan terhadap pemimpin karena Allah. Meski tidak banyak yang saya ketahui tentang beliau, meski dia bukanlah presiden dari republik tercinta ini dan meskipun begitu jauh jarak telah memisahkan antara Indonesia dan Iran. Saya tidak rela jika ada orang yang dapat melukai beliau !!
Sosok Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, yang telah memenangkan lebih dari 62% suara pada pemilu presiden lalu memang terkenal akan kesederhanaannya. Jauh dari kemewahan yang tergambarkan dari seorang pejabat. Sungguh berbeda jauh dengan kebanyakan para pejabat yang ada di negeri tercinta ini. Bukan kekaguman yang muncul, tapi justru sayatan kekecewaan di hati atas perilaku kehidupan mereka.
Kekaguman terhadap beliau memang diawali ketika membaca berita-berita pada awal pengangkatannya menjadi presiden. Mulai dari penolakannya terhadap pemasangan foto presiden di kantor-kantor, penolakan terhadap pemasangan iklan ucapan selamat di koran-koran, sampai dengan tempat tinggalnya yang terbilang sangat sederhana.
Kekaguman itu berlanjut pada ketegasan dan keberanian sikapnya untuk tampil “berbeda” dengan pemimpin dunia lainnya. Holocaust sebagai mitos belaka, larangan terhadap musik Barat, seruan agar Israel dipindahkan ke Eropa, sampai dengan harapannya atas kematian Ariel Sharon--sang Perdana Menteri Israel--diungkapkannya dengan terang-terangan ke dunia internasional !!
Hmm… gembira rasanya melihat tanggapan para pejabat negeri barat yang begitu “gerah” akan seorang Ahmadinejad. Kehadirannya sebagai pemimpin negara semakin membuat Barat berkaca bahwa tidak semua negara dapat diatur oleh mereka.
Saya dari dulu selalu berharap munculnya pemimpin seperti Presiden Iran itu, terutama Pemimpin Islam yang tidak takut akan negara-negara Barat. Pemimpin yang tegas dengan berkata lantang apa adanya bukan dengan mengemasnya dengan bahasa diplomatis dengan dalih sopan santun internasional. Sudah saatnya umat Islam bangkit dengan mengembalikan kejayaan dan kewibawaannya. Sebagai pembentuk peradaban, bukan sebagai pengikut apa yang dibawakan oleh negara Barat.
Alhamdulillah, Allah SWT masih melindungi beliau dalam tragedi ledakan bom tersebut. Pada saat-saat terakhir, kunjungannya ke tempat itu dibatalkan karena cuaca yang buruk. Meski bom itu meledak tidak tepat pada tempat beliau rencananya akan memberikan pidato, tapi disinyalir bom itu memang ditujukan kepadanya.
Ya Allah, lindungilah Mahmoud Ahmadinejad. Sesungguhnya belum ada satu orang pun dari umat-Mu dengan posisi sebagai kepala negara yang begitu berani terhadap musuh-musuh-Mu seperti halnya beliau. Belum ada satu negeri Islam pun yang dapat menggetarkan musuh-musuh-Mu dengan teknologi nuklir yang dimiliki seperti halnya Iran, dan karena belum banyak pemimpin negara yang dapat kami banggakan perilakunya. Lindungilah ia Yaa Rabb, dan jadikanlah kebanyakan pemimpin dari kami seperti beliau, bahkan lebih baik dari beliau.

Posted @ [
Wednesday, January 25, 2006]


Friday, January 13, 2006

Untuk Si Pemilik Cermin
Harapannya begitu tinggi terhadap barisan ini. Bahkan mungkin terlalu tinggi untuk dapat diperbuat oleh segelintir dari kami. Tapi tahukah, bisa jadi ada ribuan orang yang juga memiliki harapan sama untuk diwujudkan.
Ia seolah melihat barisan malaikat dengan kesempurnaannya, padahal kami hanyalah sekelompok manusia yang penuh dengan kelemahan. Tak usahlah bersusah payah untuk menutupi kelemahan itu, apalagi menyangkal. Kami dan kita semua memang hanyalah makhluk yang lemah dan rendah dihadapan-Nya.
Kelemahan yang terlihat adalah gambaran atas beratnya perjuangan, betapa susahnya melakukan perubahan, dan betapa ujian diberikan-Nya pada setiap insan yang telah berikrar untuk membawa bendera agama ini.
Bersyukurlah dan pujilah Dia atas kebesaran dan keadilan-Nya. Sesungguhnya Dia tidaklah melihat hasil, namun Dia melihat usaha yang telah dilakukan. Berikanlah usaha yang terbaik dan serahkan penilaian akhir hanya pada-Nya.
Ada kalanya, tidak hanya penduduk langit saja yang perlu mengetahui apa yang telah kita perbuat. Pertanggungjawaban terhadap penghuni bumi pun menjadi keharusan. Manusia memang tidak dapat melihat semuanya, maka dari itu bermaklumlah dan sertailah dengan kesabaran.
Ia memang berkata pedas tapi tidak sepedas hinaan yang dilontarkan kaum kafir terhadap Rasulullah. Tak usahlah menutup telinga kalau begitu. Ia memang berprasangka, namun kenapa harus pusing kalaulah prasangka itu hanya sekadar sangkaan. Berterimakasihlah karena ia dengan kerelaan hatinya telah meminjamkan sebuah cermin untuk kita.
Lihatlah cermin itu sekali-kali saja dan jangan terpaku. Ketinggian kedudukan dihadapan-Nya adalah disibukkannya pada perbuatan bukan disibukkan pada menyediakan cermin buat orang lain dan melupakan cermin untuk diri sendiri apalagi disibukkan hanya untuk bercermin.
Seumpamaan sebuah syair,
Semut diseberang lautan terlihat, gajah di depan mata tak tampak.
Berikanlah kesantunan karena dengan itulah Rasulullah menyeru manusia. Tunjukkanlah akhlakmu dengan begitu hanyalah bukti yang kita berikan, bukan hanya kata-kata tuk menyangkal.
Ia kecewa pada barisan ini. Mohon maaflah, usaha inilah yang dapat kami berikan saat ini, tapi jangan tuduh kami berhenti. Lihatlah dan semoga kita menjadi golongan yang melihat dan menjadi saksi.
Kritisnya kami tak kan pernah sirna, bahkan terhadap pemimpin di barisan kami. Namun kritis kami dibaluti dengan keimanan, dengan kepercayaan, dan kasih sayang diantara kami sambil berharap terpeliharanya kesatuan dan kesolidan langkah jamaah. Kami bukanlah mereka yang mudah dipecah-belah, karena itu janganlah sekadar berprasangka.
Tidakkah merupakan sesuatu yang patut disyukuri akan adanya sebuah persatuan? Lalu mengapa harus risih akan hal itu? Kenapa tidak dipikirkan saja bagaimana menyatukan jamaah lain yang ada di negeri ini daripada berharap akan timbulnya benih-benih perpecahan pada jamaah yang sedang berusaha untuk rapi ini?
Cita-cita kami adalah masyarakat madani. Tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap pemimpin adalah salah satu cirinya. Persatuan umat adalah salah satu hasilnya, dan kami sedang belajar mewujudkannya.
Sebuah kejujuran tanpa basa-basi atas dasar simpati atau basa-basi simpati dengan pakaian kejujuran? You know it better than we do.
"Saya adalah penjamin bagi orang yang meninggalkan mira (debat kusir) meskipun ia ada dipihak yang benar dengan mendapatkan rumah di jannah terendah dan bagi orang yang baik akhlaqnya akan mendapatkan rumah di jannah yang tertinggi".
(hadits riwayat Abu Daud/4800, Al Mizzi dalam Tahdzibul Kamal, dengan sanad yang hasan)

Posted @ [
Friday, January 13, 2006]


Friday, December 23, 2005

Refleksi di Hari Ibu…
Aku memang tidak dapat mengingat,
masa-masa kau mengandungku…
Aku pun tak dapat merasakan,
pertaruhan nyawa disaat kau melahirkanku…
Bahkan ketika hari-hari tlah ku tapaki,
tak semua kebaikan tulusmu dapat ku ingat…
Namun satu yang pasti,
ku slalu dapat merasakan…
betapa kau sangat menyayangiku…
betapa kau sangat menginginkan kebahagiaan untukku,
dan betapa kau menginginkan segala kecukupan atasku
Meski kadang hal itu membuatmu susah,
Meski kadang hal itu melukai hatimu…
Dan meski kadang kau harus bersusah-payah untuk hal itu.
Bunda,…
Jikalau Rabb-ku saja memberikan kehormatan khusus untukmu,
mengapa bisa diri ini pernah merendahkanmu?
Adakah ruang maaf tersisa?
Jikalau ‘ah’ saja Sang Rabb tak memperkenankan,
bukankah lisan ini begitu layak akan amarah-Nya?
Adakah ruang ampunan tersisa?
Bunda,…
Sungguh, betapa ku sangat ingin,
tuk dapat membuatmu tersenyum setiap hari…
agar kerut wajahmu tertutup dengan keceriaan wajahmu.
Dapatkah amalanku tuh membalas semua budinya, yaa Rabb?
Cukupkah?
Ataukah sudah takdir-Mu agar setiap kami hanya sekadar berharap,
‘tuk dapat membalas sgala jasa-jasanya?
‘tuk sekadar berharap?
Sayangilah mereka,
seperti halnya Kau menyayangi kami di waktu kecil kami.
Ampunilah mereka,
karena sesungguhnya Engkaulah Sang Maha Pengampun.
Tempatkanlah kami di surga-Mu,
meski dengan perantaraan telapak kakinya, yaa Rabbana.

Posted @ [
Friday, December 23, 2005]


Wednesday, December 21, 2005

Kemenangan itu, Terasa Lebih Manis…
Pernahkah diantara kita ada yang mengalami perampasan terhadap hasil kerja keras yang selama ini kita lakukan? Jika ya, anda tentunya dapat merasakan bagaimana kesal dan marahnya akan hal itu bukan? Setidaknya, hal itulah yang dirasakan oleh kader PKS se-Kota Depok yang walikota terpilihnya telah dianulir oleh PT Jabar. Bahkan mungkin bukan hanya kader yang merasa dirugikan, tapi juga seluruh simpatisan yang telah memberikan hak politik mereka kepada walikota terpilih dari PKS itu.
Dikatakan perampasan karena sesungguhnya kemenangan calon dari Partai Golkar oleh PT Jabar bukanlah hak mereka. Fakta telah berbicara bahwa sesungguhnya calon yang mereka usung tidak lain hanyalah pecundang pada pilkada Depok!
Tidakkah mereka menyadari bahwa konsekwensi dari demokrasi seperti ini berarti kekalahan pada pihak yang suaranya lebih sedikit? Lalu mengapa mereka tidak berbesar hati dan dengan lapang menerima kekalahan mereka? Namun tidak, hausnya akan kekuasaan telah mengilhamkan 1001 cara agar mereka dapat menjadi pemenang. Ya, pemenang!! Meski dengan mengesampingkan harga diri mereka!!
Sesungguhnya, Allah-lah sebaik-baiknya pembuat makar. Kita semua tidak akan tahu bagaimana kesudahan dari makar yang dirancang-Nya atas urusan dunia kita. Namun kini kita saksikan semua perjalanan makar-Nya atas pilkada Depok. Pilkada Depok tentu hanya akan menjadi hal yang biasa saja seperti halnya pilkada di daerah-daerah lain jika masalah ini tidak muncul. Semua mata di Indonesia seolah menyaksikan perjalanan pilkada Depok dimana calon dari PKS yang menjadi pilihan warganya. Dan Indonesia makin melihat juga bagaimana ambisi Partai Golkar dalam meraih kekuasaan.
Putusan MA yang mengabulkan PK KPUD Depok pun akhirnya keluar dan serta-merta membatalkan keputusan PT Jabar. Penantian panjang oleh kader PKS pun terhapuskan dengan kegembiraan yang sangat.
Namun ternyata, mereka tidak tinggal diam. Sang pecundang masih tidak mau mengakui kekalahannya. Dengan dalih keputusan MA cacat hukum mereka masih mencari-cari celah untuk menciderai kemenangan itu.
"Lagi pula dalam UU Nomor 32/2004, PP Nomor 6/2005 dan Perma Nomor 2/2005 tidak dikenal adanya PK. Oleh karena itu, keputusan musyawarah lima hakim tersebut kami tolak. Karena bertentangan dengan perundang-undangan pilkada yang dijadikan acuan”. Lagi-lagi, kalian hanya berbicara tentang undang-undang. Bukankah prinsip kalian hukum dapat dibeli? Bukankah sedari awal keputusan PT Jabar sudah bertentangan dengan fakta dan keinginan sebagian besar warga Depok? (Ooh, maaf. Urusan yang satu ini kan terkait dengan hati nurani. Jadi mungkin anda tidak dapat merasakannya.)
Ada apakah dengan Kota Depok? Sudahkah Kota Depok menjadi kota metropolitan yang kekuasaan puncak di eksekutifnya merupakan hajat partai yang harus dipenuhi? Jikalau Depok yang hanya sebatas itu mereka mati-matian mempertahankannya, lalu bagaimana dengan Jakarta?
Teringat, bukankah hasil mukernas kalian mengusung wacana PKS sebagai ancaman? Dan kemenangan kami di Depok merupakan ancaman yang harus pula disingkirkan? Atas itukah kalian berhasrat?
Perhatikanlah: Kami bukanlah ancaman terhadap kalian ataupun golongan manusia lainnya. Tapi kami jelas merupakan ancaman terhadap perilaku manusia yang bejat apapun dan dimanapun golongan kalian! Kami memiliki idealisme, dan idealisme itu atas tuntunan Tuhan kami, yang bisa jadi, Tuhan kalian juga. Tidakkah kalian sadari? Sampai kapankah kalian akan terlena dengan dunia? Dengan kekuasaan? Semoga kami dan kalian termasuk golongan yang kembali kepada-Nya dengan kemenangan.
Kemenangan di Depok saat ini memang terasa lebih manis karena harus melalui banyak tantangan sebelum perolehannya. Semoga Allah menetapkan akhir dari kemenangan itu pada jamaah dakwah ini. ALLAHU AKBAR !!

Posted @ [
Wednesday, December 21, 2005]


Friday, December 09, 2005

Catatan Perjalanan Wisata Hati
(Daarut Tauhid, 3-5 Desember 2005)
Selain untuk menyelesaikan tugas ke-DPRa-an yang sempat tertunda untuk sekian lama, kami akhirnya sempat untuk mengunjungi Pondok Pesantren Daarut Tauhid. Sebuah perjalanan yang tentunya tidak sekadar rekreasi, namun jauh lebih bermakna dari itu, wisata hati. Semoga kesegaran ruhiyah dan hati kami tetap terjaga. Berikut adalah sekelumit catatannya.
Pribadi yang Membawa Berkah
Kehadiran sosok unik Aa Gym ditengah bangsa Indonesia untuk sebagian besar orang memang ibarat oase di tengah padang pasir. Kerinduan akan suri tauladan dirasakan begitu terpuaskan dengan kehadirannya. Pribadi yang tak sekadar berucap, namun juga mencontohkan. Sungguh sebuah keberkahan bagi bangsa ini.
Keberkahan itu ternyata lebih terasa pada lingkungan sekitar Daarut Tauhid. Setidaknya, disamping kebutuhan rohaniah, masyarakat sekitar juga mendapatkan keberkahan dari sisi penghasilan. Sepanjang jalan masuk menuju Daarut Tauhid, nampak di sisi kiri dan kanan jalan ruang-ruang usaha yang dijalankan oleh warga setempat. Mulai dari makanan, minuman, pakaian, pernak-pernik, dan bahkan penginapan.
Kenyataan tersebut tentunya sangat disadari pula oleh Aa. Dalam jamuan silaturrahim di kediamannya, terucap bahwasanya ada beban tersendiri buat Aa jika terlalu lama meninggalkan Daarut Tauhid. Jamaah yang akan berkunjung ke DT tentunya akan mengurungkan niatnya manakala Aa tidak ada di DT, dan kalau tidak ada yang berkunjung maka masyarakat sekitar kehilangan sumber-sumber penghasilan yang sebagian besar mengandalkannya dari kedatangan tamu-tamu Aa Gym.
Pemilik Rumah yang Bijak
Mencari tempat menginap terbilang gampang-gampang susah di sekitar DT. Meski banyak penginapan, namun pada akhir pekan biasanya dipenuhi oleh jamaah dari luar Bandung.
Meski telah memasuki penginapan dari sore hari, bertatap muka dengan orang lain di rumah itu pun baru kesampaian di pagi harinya (red: kecuali sang resepsionis penginapan). Itu pun ternyata langsung dengan si pemilik rumah. Oleh karena banyak pula orang lain yang menginap di tempat itu, tentunya tidak salah jika pembicaraan pada waktu itu dibuka dengan pertanyaan: “Bapak pemilik rumah ini atau tamu yang menginap juga seperti saya?”. Dengan senyum dan pandangan yang menerawang, bapak itu menjawab: “yang memiliki mah Alloh, saya hanya dititipkan saja untuk mengelolanya”.
Sudah sedemikian dalam kah mereka tercelup dengan nilai-nilai Ilahiyah? Sampai-sampai diri ini merasa malu karena bertanya dengan redaksional seperti itu.
Teguran dari Hati
Senin pagi, selepas sholat subuh di Masjid DT, kami mengikuti kajian rutin yang diisi oleh Aa Gym. Sebelum dimulai, Aa menanyakan keberadaan santrinya yang tidak tampak banyak di masjid itu.
Satu per satu, sekelompok demi sekelompok pun akhirnya mereka hadir. Selain mengevaluasi alasan keterlambatan mereka, Aa juga mengevaluasi amalan yaumiah mereka. Bagi mereka yang tidak berpuasa sunnah, dengan kelembutan lisannya, Aa meminta mereka untuk berdiri di belakang sampai acara kajian selesai sebagai hukuman.
“Apakah Aa keliatan marah? Tidak, Aa hanya sedih”. Tidak ada kesuksesan tanpa kedisplinan, dan hukuman bagi mereka yang tahu peraturannya namun tetap dilanggar.
Jay dan Hidayat Nur Wahid
Apa persamaan yang unik antara Jay dengan Dr. Ir. Hidayat Nur Wahid? Tidak ada kesamaan yang unik antara keduanya sampai ketika kunjungan kami ke Masjid Daarut Tauhid. Ya, kami sama-sama kehilangan alas kaki.
Menurut nara sumber kami, Pak Hidayat pernah berkunjung ke Masjid DT dan kehilangan sepatunya. Namun untuk Jay, baru sebatas sandal saja yang hilang (red: ujian memang diberikan sebatas keimanan seseorang, hehehe….).
Lokasi Masjid DT yang berada di pinggir jalan memang sangat memungkinkan siapa saja untuk singgah, tak terkecuali bagi pencuri alas kaki. Setidaknya, hal itu memberikan gambaran pula tentang keberagaman orang meski dengan Aa Gym sendiri yang secara langsung men-tarbiyah masyarakat setempat.

Posted @ [
Friday, December 09, 2005]


Monday, November 28, 2005

Harapan atas Sebuah Pilihan
Hidup ini memang akan senantiasa diisi dengan berbagai macam pilihan. Terkadang, hal itulah yang membuat hidup ini justru terasa lebih dinamis. Berbicara tentang pilihan tentu akan sangat luas, mulai dari hal yang kecil, besar, pribadi, ataupun umum. Pilihan akan terasa penting karena pilihan kita saat inilah yang akan menentukan nuansa kehidupan seperti apa yang akan kita jalani di masa yang akan datang.
Untuk menentukan sebuah pilihan tentunya dilakukan dengan terlebih dahulu mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Tepat atau tidaknya, keuntungan dan kekurangannya, kebaikan dan keburukannya, serta faktor-faktor lainnya. Dengan kata lain, pilihan telah tercipta dengan melewati proses yang tidak mudah. Hal tersebut akan jauh semakin sulit manakala kita dihadapkan pada sebuah pilihan untuk seumur hidup (a decision for a life time), yang salah satunya adalah memilih pasangan hidup kita.
Terkait dengan memilih pasangan hidup, sebagian orang ternyata masih merasa belum cukup ketika telah memiliki sebuah pilihan. Lebih jauh lagi, orang-orang tersebut masih memiliki harapan atas sebuah pilihan yang telah diambilnya. Padahal, sebagian orang yang lain sudah sangat bersyukur jikalau sudah dapat memilih diantara beberapa pilihan yang ada. Bahkan sebagian yang lain bisa jadi masih sangat berharap akan adanya pilihan karena selama ini belum ada satu pun pilihan yang muncul.
“Saya akan menikahinya nanti, tapi tunggu dulu deh. Biar dia belajar untuk lebih dewasa dulu”. Terlepas dari latar belakang sesungguhnya kenapa orang tersebut menunda pernikahan, ungkapan seperti itu tentunya mencerminkan akan masih adanya harapan-harapan tertentu atas pilihan yang telah dibuatnya. Kalimat pertama adalah pilihannya, sedangkan kalimat kedua adalah harapannya. Berharap adalah hak setiap orang tentunya, namun adalah kewenangan Alloh swt untuk memberikan keputusan atas harapan makhluk-Nya. Namun setidaknya, sebagai makhluk hendaknya setiap kita senantiasa menyiapkan diri akan kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan.
Mengapa engkau tidak bercermin dahulu sebelum berharap? Jikalau masih ada harapan terhadap pilihan yang kita ambil, mengapa kita memilih? Bukankah ketika akan memutuskan pilihan berbagai macam hal telah kita pertimbangkan? Ataukah pilihan kita hanya tuk sekedar kesenangan sesaat?
Terimalah dia apa adanya jika memang telah kau tetapkan pilihan mu atas nya sebagai teman hidup mu. Besarkanlah pandangan atas kelebihan yang ada pada nya, dan kecilkanlah kekurangannya. Ketika ia tidak bisa dewasa sesuai dengan harapan kita, maka itu adalah bagian tak terpisahkan dari dirinya yang melekat erat dengan kelebihan lain yang kita sukai padanya.
Besarkanlah hati kita dan lapangkanlah untuk urusan tersebut. Bukankah kita juga memiliki kekurangan? Atau sedemikan egoiskah kita sehingga kekurangan yang ada pada kita tidak bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk dirinya dalam menerima kita?
Jikalau ia ternyata bisa menerima kita dengan segala kekurangan yang ada pada kita, bukankah itu berarti ia sebenarnya lebih dewasa daripada kita? Lalu hal apa lagi yang membuat kita menutup mata darinya?
Jadikanlah pilihan itu sebagai satu paket atas hal-hal lain yang bisa muncul darinya dan jadikanlah pilihan itu sebagai penutup untuk sebuah urusan. Jangan kau munculkan harapan lagi atas sebuah pilihan. Jikalau banyak kenyataan terjadi setelah kita memilih, itu adalah nuansa kehidupan yang harus kita jalani sebagai hasil pilihan kita.
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
(Asy-Syams: 8-10)

Posted @ [
Monday, November 28, 2005]


Friday, November 18, 2005

Karena Engkau Biasa...
Dikala jiwa ini merasa hampa,
Perjumpaan dengan mu, sangatlah dinanti.
Karena engkau biasa,
Mengisinya dengan keikhlasan mu.
Dikala beban hati terasa,
Tak sabar diri ini tuk ungkapkan.
Karena engkau biasa,
Meringankannya dengan perhatian mu.
Dikala hati tak tergerak dengan ucapan,
Tak pernah kau memaksa tuk lakukan.
Karena engkau biasa,
Mencontohkannya dengan akhlak mu.
Dikala diri ini lupa,
Tak pernah kau tegur dengan ketegasan mu.
Namun engkau biasa,
Mengingatkannya dengan kelembutan lisan mu.
Dikala semangat ini melemah,
Tak pernah kau gusar karenanya.
Namun engkau biasa,
Membangkitkannya dengan berbagi semangat mu.
Dikala diri ini menjauh,
Tak perlu kau memanggilnya dengan keras.
Namun engkau biasa,
Menyatukannya dengan kehangatan mu.
Dikala kebaikan tak terucap,
Cukuplah kau hadirkan wajah mu tuk menggantikannya.
Karena dengan melihatnya,
Tlah pula mengingatkan akan nilai-nilai kebaikan.
Dikala diri ini mencoba,
Tuk tuliskan segalanya atas mu,
Tak pernah cukup bait-bait disajikan.
Karena engkau pun tahu,
Cukuplah Rabb-ku atas perkara itu.Dedicate to my Murabbi.thanks for everything.

Posted @ [
Friday, November 18, 2005]


Tuesday, November 15, 2005

Our Story1--(full schedule)
Sabtu sore itu memang cukup melelahkan. Jadwal libur kantor bukan berarti tidak ada kegiatan sepanjang hari, malah sebaliknya hari itu penuh dengan aktivitas lainnya. Pagi hari sampai dengan siang, adalah jadwal perkuliahan. Kerja sambil kuliah disamping melelahkan memang menuntut kita mengorbankan waktu sisa yang dimiliki di luar jam kantor. Setelah kuliah, aktivitas dakwah di kampus adalah prioritas berikutnya. Maklum, sudah bertekad jadi bagian dari perubahan ke arah kebaikan, sehingga dimana pun posisi kita, harus ada yang disumbangkan untuk hal tersebut. Kali ini aktivitas itu baru syuro koordinasi, belum berwujud kegiatan. Namun hal itu saja sudah menuntut investasi waktu sampai dengan sore hari. Setelah syuro, kegiatan belum berhenti pada saat itu. Sekelompok remaja di dekat tempat tinggal orang tua ku sudah menanti untuk mendengarkan kajian keislaman yang selama ini rutin ku berikan--semoga Alloh senantiasa menjadikannya amal yang ikhlas--. Berat juga ketika belum punya kendaraan, karena harus buru-buru naik angkot supaya bisa dateng on time. Depok-Pondok Labu kan bukan jarak yang terbilang dekat meski ditempuh dengan angkot. Sebelum ke tempat kajian, ku sempatkan mampir ke rumah orang tua dulu untuk bersih-bersih dan makan malam. Yah, sekalian silaturrahim lah. Semenjak menikah akhir Agustus 2005 yang lalu kan selalu tinggal di rumah mertua, begitu pikir ku.
Mengisi kajian memang terbilang enak dan ada juga susahnya. Susah karena mesti rajin-rajin baca literatur untuk dijadikan materi, dan enaknya karena Alloh SWT menjanjikan pahala yang lebih baik dari bumi dan seisinya untuk setiap orang yang berislam melalui perantaraan usaha kita. Kajian itu akhirnya selesai, dan para remaja yang bersemangat itu pun berpamitan untuk pulang. Aku pun beranjak kembali ke rumah orang tua untuk pamit. Waktu sudah menunjukkan jam 21.30. Bapak yang baru pulang kerja pun menyempatkan mengantar ku sampai ke jalur angkot dengan motornya.
Sesampainya di rumah, sang istri tercinta menyambut dengan senyumnya yang ceria dan sedikit manja. Namun senyum itu tidak berlangsung lama. Ku langsung menuju kamar untuk berganti pakaian dan segera membuka buku catatan syuro untuk melihat jadwal agenda dakwah yang akan datang.
Wajahnya nampak memendam kecewa di saat ku menulis rangkaian jadwal kegiatan pada white board yang ku pasang di kamar kami. Namun tampaknya, kegundahan yang ada tidak akan pernah berani ia utarakan.
Jadwal yang ku tulis selalu saja mengambil waktu sabtu dan minggu, bahkan lebih dari satu agenda di hari yang sama. Otomatis waktu akhir pekan yang biasa dihabiskan oleh kebanyakan orang dengan refreshing bersama orang-orang tercinta tidak bisa kami lakukan.
Maklum, terhitung hanya satu kali waktu saja di hari sabtu yang bisa kami habiskan bersama semenjak menikah. Itu pun di minggu pertama pernikahan kami. Selebihnya, aktivitas yang memang ku jalani semasa lajang tak bisa dilepaskan begitu saja. Toh aktivitas tersebut insyaAlloh bukanlah sebuah perkara yang sia-sia untuk dijalani, melainkan untuk investasi kehidupan akhirat kelak.
Oleh karena itu lah, dibalik diamnya ku tau ia menyimpan seribu pemahaman akan hal itu, meski harus dibalutnya dengan raut yang tak ceria. Tidak ada kata yang terucap pada saat itu namun batin kami seolah bicara. Ku katakan dengan hati, “duhai istri ku tercinta, sungguhlah sebuah pernikahan merupakan perpaduan dua kekuatan. Jika selama ini kekuatan itu terpisah, maka penyatuannya niscaya kan membentuk kekuatan baru yang lebih besar. Jangan kau jadikan pernikahan itu justru menjadi penghalang jauhnya ridho dan keberkahan-Nya. Tapi jadikanlah pernikahan itu untuk meraup segala kebaikan yang dapat datang dari-Nya. Beruntunglah keluarga, dimana sang istri senantiasa ridho akan suaminya, dan suami yang senantiasa menjaga keikhlasan niat atas aktivitas dakwahnya. Biarkanlah ku gunakan kekuatan baru itu demi tercapainya cita-cita tertinggi umat ini”.
Akhir kesunyian pada malam itu ditutup dengan senyuman kecil yang menghias wajahnya.

Posted @ [
Tuesday, November 15, 2005]

Renungan Akhir Ramadhan
Setidaknya…
Biarkanlah diriku hanya berdua dengan Rabb ku,
Di hari terakhir berbuka puasa.
Sesungguhnya...
Bukankah setiap makhluk hendaklah menghisab dirinya,
sebelum hari penghitungan yang sebenarnya?
Ya Rabb...
Jikalau boleh mengungkapkan,
Kenapa harus ada perpisahan?
Dengan kekuasaan-Mu,
Kenapa tidak Kau jadikan saja hanya ada perjumpaan?
Dengan kekuasaan-Mu,
Kenapa tidak Kau jadikan saja sepanjang tahun adalah bulan Ramadhan?
Kami hanya takut.....
Kami termasuk golongan yang merugi.
Kami hanya takut....
Kami tidak Kau takdirkan,
tuk berjumpa lagi dengan bulan ampunan-Mu.
Ya Rabb....
Saat itu tlah tiba.
Bilangan bulan Ramadhan tlah Kau cukupkan.
Kumandang adzan kali ini begitu berbeda,
bukan kegembiraan akan berbuka puasa yang kami rasakan,
namun kesedihan yang sangat akan kehilangan.
Terimalah ibadah kami ya Rabb,
Puasa kami, shalat malam kami,
Ruku kami, sujud kami…
Hanyalah Engkau, tempat kami berharap…-Jay-
on the moment of ending Ramadhan

Posted @ [
Tuesday, November 15, 2005]

Idul Fitri Bukanlah (sekadar) Pakaian Baru
“Idul Fitri bukanlah pakaian baru, tapi Idul Fitri adalah kembali ke fitrah yang baru setelah menjalani puasa selama bulan Ramadhan dan predikat taqwa dapat diraih”.
Itulah sekilas kutipan dari khutbah Idul Fitri yang mungkin salah seorang dari kita pernah pula mendengarnya. Ucapan yang mengungkap begitu dalam dari makna akan sebuah Idul Fitri. Kedalaman makna yang diharapkan oleh seluruh kaum muslimin namun belum tentu semua orang mendapatkannya.
Terlepas dari kedalaman makna yang terkandung dalam kalimat tersebut, redaksi “Idul Fitri bukanlah baju baru” sepertinya masih perlu dikaji lebih lanjut. Kita semua tahu, menjelang hari raya Idul Fitri, hampir seluruh kaum muslimin-khususnya di Indonesia- memiliki tingkat konsumsi yang tinggi terhadap kebutuhan sandang (pakaian). Bahkan di salah satu media cetak sempat diberitakan tentang kenaikan konsumsi tersebut mencapai 20%. Adakah ini suatu fenomena? Atau budaya yang hanya terjadi di Indonesia? Sangat relatif tentunya. Tergantung darimana kita melihatnya dari berbagai sudut.
Pada salah satu sisi pandang, mengenakan pakaian terbagus pada saat hari raya adalah sebuah sunnah Rasulullah saw. Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah saw memerintahkan kita di dua hari raya menggunakan pakaian terbagus yang kita miliki, menggunakan parfum terbaik yang kita miliki, dan berkurban dengan apa saja yang paling bernilai yang kita miliki. (hadist riwayat Al-Hakim, sanadnya baik). Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Syafi’i, bahwa Rasulullah saw menggunakan kain burdah yang bagus pada setiap hari raya (sanadnya baik).
Jikalau itu yang melatarbelakangi kenaikan konsumsi kebutuhan sandang kaum muslimin di Indonesia, sesungguhnya hal itu merupakan pelaksanaan dari salah satu sunnah rasulullah. Jikalau baju yang bagus hanya bisa dimiliki dengan membeli, tentu tidak ada salahnya. Namun sekali lagi, itu bukanlah kewajiban. Sungguh sebuah ungkapan yang kurang tepat jikalau Idul Fitri serasa tidak afdhol jika tidak menggunakan pakaian baru, karena esensi dari Idul Fitri adalah seperti apa yang tertulis pada paragraf pertama di atas.
Oleh karena itu, janganlah merasa sungkan untuk mengenakan pakaian yang bagus pada saat hari raya dengan alasan sudah bukan anak kecil lagi, sudah dewasa, sehingga tidak perlu baju baru lagi. Jikalau alasan tersebut yang terungkap tentunya menggambarkan akan pemahaman yang kurang tepat. Mengenakan pakain bagus pada saat hari raya bukanlah sebuah budaya orang Indonesia, melainkan jauh dari itu, adalah sebuah pelaksanaan sunnah rasulullah.
Kembali tentang redaksional kalimat paragraf pertama diatas, mungkin akan lebih tepat jika tertulis dengan “Idul Fitri bukanlah sekadar pakaian baru, tapi Idul Fitri adalah kembali ke fitrah yang baru setelah menjalani puasa selama bulan Ramadhan dan predikat taqwa dapat diraih“. Wallahu’alam.

Posted @ [
Tuesday, November 15, 2005]

Menyapa Cinta
Hari ini aku ingin bicara tentang cinta…
Aku selalu menganggapnya sebuah keindahan diatas makna sebuah pengorbanan yang utuh. Ibarat langit ia kan menaungi apa yang berada dibawahnya, ibarat tangga ia akan menghantarkan kita pada puncak tujuan yang ingin kita capai. Laksana tanah, ia mampu memberi tempat hidup bagi siapapun. Tapi kenapa ada yang merasa terluka dengan cinta, aku rasa itu karena ia tidak cinta.
Bahasa Cinta menghalau semua pedih hingga timbulnya rasa syukur dan bersabar atas apapun yang hadir diantaranya. Tapi mengapa selalu ada saja yang menuntut diberi, dan saat ia tidak dapati lalu salahkan cinta. Aku rasa itu karena ia tidak cinta.
Tangan kecilku meraih sebuah ruang hampa yang berisi cinta. Setiap kali aku melangkah padanya aku merasakan riak kecil dalam hatiku bergemuruh. Entah, itukah namanya cinta. Tapi ku tahu kenyamanan timbul saat bersamanya.
Seorang bijak katakan padaku
Jadilah orang yang penuh cinta karena alam semesta ini penuh akan cinta.
Jangan bersedih, Cinta yang agung akan mampu mengubah nestapa jadi kebahagiaan.
Aku kira tidak ada yang salah dari ungkapan itu. Ketika akhirnya kusimpulkan saja.
Sesungguhnya orang yang paling dicintai adalah orang yang memberi cinta paling besar bagi orang lain.
Dipersembahkan untuk Jay dan Sistha
“ the best couple that make me jealous of the year"by: Ratna Triana
http://rtriana.blogspot.com/

Posted @ [
Tuesday, November 15, 2005]

Sikapilah Rasa itu Semestinya…
“duh akhi, gawat neh…. Ana ga nyangka ini bisa terjadi pada diri ana”.
“ada apa emangnya akh?”.
“ ga tau nih… padahal ana dah menjaga dengan hati-hati banget, tapi kenapa masih bisa terjadi seperti ini yah?”.
“ceritain dong, sapa tau ana bisa bantu”.
“ana lagi futur kayaknya nih akh… ana punya perasaan yang agak berbeda kepada salah satu akhwat”.
“ooooo……”, sahut teman bicaranya.
Sekilas, seperti itulah esensi pembicaraan yang ku tangkap dari dialog yang terjadi pada saudara seiman pada sore itu. Apa yang mereka bicarakan, jadi mengingatkan ku akan masa lalu yang pernah terjadi pada diri ini.
Aku bukanlah pribadi yang sempurna, bahkan mungkin mereka jauh lebih baik dibandingkan pribadi yang pernah menghiasi masa lalu ku. Namun dengan bermodalkan masa lalu itulah kematangan demi kematangan kian dapat ku rasakan.
Saudaraku yang ku cintai karena Alloh…
Menyikapi rasa itu, tak usahlah kau terlalu panik, atau terlalu lengah. Cukuplah kau sikapi rasa itu dengan semestinya. Kenapa demikian cepatnya kau nisbatkan dirimu futur padahal munculnya rasa itu bukanlah termasuk kategori penyebab futur? Bukankah rasa itu merupakan bagian dari naluri kemanusiaan kita? Sesuatu yang memang merupakan bagian dari kehidupan manusia. Ia tidak bisa kau hilangkan, namun hanya bisa kau arahkan.
Sikapilah rasa itu dengan semestinya…
Semestinya kau tingkatkan pendekatan mu pada-Nya manakala rasa itu demikian kuat. Bukankah Ia melalui perantaraan rasul-Nya tlah memberikan petunjuk? Kembalikanlah semua itu pada Sang Pemilik rasa.
Sikapilah rasa itu dengan semestinya…
Semestinya kau bukalah pintu hatimu akan segala kebaikan. Jadilah pribadi yang senantiasa menjemput segala peluang untuk berbuat baik. Niscaya Ia kan mengisi hati mu dengan rasa kecintaan yang lebih terhadap-Nya.
Sikapilah rasa itu dengan semestinya…
Semestinya sudah patut kau hisab kembali akan segala yang pernah kau lakukan atas nama dakwah agar senantiasa terjaga kelurusan niatnya. Bilakah diri ini melakukan itu semua hanya karena tujuan sempit yang bersifat keduniawian? Hanya karena manusia?
Sikapilah rasa itu dengan semestinya…
Semestinya kau segerakan langkah-langkah yang dapat membuat dirimu lebih aman atas segalanya. Bukankah kita semua berharap untuk termasuk hamba-hambanya yang tidak melampaui batas?
Semoga selalu dalam keberkahan Allah diatas cinta yang ditumbuhkan untuk kalian. (this statement is taken from Ratna Triana’s comment on our blog).

Posted @ [
Tuesday, November 15, 2005]

Our First Ied…
Ramadhan tahun ini adalah yang pertama buat kami. Tidak ada kendala yang berarti dalam menyambut dan menjalaninya. InsyaAlloh semua dilaksanakan dengan usaha terbaik yang kami bisa.
Tidak terasa, hitungan satu bulan itu pun sudah hampir berlalu. Kala itu persiapan menyambut hari kemenangan pun mulai dibicarakan. Termasuk salah satunya adalah agenda silaturrahim.
“Nanti pas Idul Fitri kita silaturrahim kemana dulu yah?”, begitulah kalimat pertanyaan yang muncul darinya membuka diskusi kami. Ya, pertanyaan itu memang patut dibahas mengingat kami sekarang adalah bagian dari dua buah keluarga besar. Sangat berbeda dengan Idul Fitri tahun sebelumnya dimana kami menjalaninya dengan keluarga masing-masing.
Rasa egois pun menggelitik muncul. Masing-masing menginginkan agenda silaturrahim dipenuhi semuanya pada keluarga sendiri terlebih dahulu, baru setelah itu keluarga sang pasangan. “Hari pertama Idul Fitri setelah shalat kita langsung ke rumah orang tua ku”, jawab sang pasangan. “Tapi kan mama dan kakak juga pengen silaturrahim ke sana, hari kedua aja baru ke sana. Biasanya kita sekeluarga kumpul di rumah mbah waktu hari pertama karena semua keluarga juga kumpul disana. Kalau kita ngga hadir, nanti bakalan repot karena mesti silaturrahim ke keluarga yang lain satu-satu”, balasnya lagi. “tapi gimana yah, tetangga dan keluarga disana juga banyak tuh, setiap tahun pasti juga kumpulnya disana”….. “yah, gimana dunks??”…
Begitulah, sekelumit masalah yang tadinya tidak terpikirkan oleh kami. Sebuah masalah yang timbul atas perubahan status kami, dan memang sudah menjadi konsekwensi atas perubahan itu. Ataukah hal itu masih terlalu besar untuk disebut sebagai sebuah masalah? Apapun namanya, tidak mengubah esensi hal itu sebagai sesuatu yang mesti diselesaikan.
Akhir dialog, tercapailah kesepakatan diantara kami. Sebuah masalah kecil yang tentunya akan mengawali masalah-masalah kehidupan lainnya. Kedewasaan dan keterbukaan pikiran tentunya merupakan dua hal dari sekian banyak hal yang patut diperhatikan dalam penyelesaian sebuah masalah, tak terkecuali masalah kecil kami diatas.

Posted @ [
Tuesday, November 15, 2005]

Surat untuk sahabat...
Pasti tidak ada yang menyangka kalau dibalik kerudung putih panjang itu ada galau yang menghinggap.
Pasti tak ada yang menyangka kalau dibalik wajah yang tenang itu sejuta perasaan menjegal setiap langkah kakinya
menuju ke tempatmu sahabat....
Selepas sholat dzuhur di masjid UI.
Kiranya kelelahan hati membawa beban ini sendiri harus dikeluarkan.
Perjalanan dakwah mungkin takkan pernah berhenti dengan kejadian ini,
tapi kiranya disadari pasti kebangkitan Islam akan semakin terhambat
dengan masalah-masalah internal yang hinggap diantara para kader
dakwah. Yakinlah Allah akan memilih prajurit-prajurit terbaiknya untuk
membangun kemenangan islam dan pasti campur tangan kita takkan sanggup
menghalau janji Allah ini.
Sahabat, izinkan untuk kali ini tuturku bersamamu....
Tanpa kita sadari dunia mungkin telah menawan, nafsu telah
membudaki, segala kesalahanpun bersinggah dalam diri. Ingat-ingatlah
setiap apa yang telah kita lakukan hingga hari ini lalu waspada dan
takutlah akan azab serta murka Tuhan. Ia mengetahui apa yang ada di hati
meski kita sembunyikan hingga ke lubang paling kecil dalam tubuh.
Berhentilah dan dengarkan sejenak.... Demi Allah! Katakanlah siapakah
yang lebih buruk kondisinya daripada orang yang diperbudak oleh hawa
nafsunya ? siapakah yang lebih merugi perdagangannya daripada orang yang
menukar akhiratnya dengan dunia ?
Saudaraku sampai kapankah kita lalai dengan tidur dan mengulang-ulang
kata "nanti" hingga lalai setiap kewajiban.
Betapa seringnya kita berpakaian bak ahli ibadah dan berpenampilan
zuhud, sedangkan hati dalam keadaan lalai. Tersuratnya ketakwaan hanya
dengan pakaian sedangkan batin hanya dalam angan-angan. Niscaya
kecintaan pada Allah takkan pernah murni jika diiring dengan kecintaan
atas wanita, harta dan kekuasaan dunia.
Betapa seringnya kita dalam kemaksiatan, jiwa sarat akan senda gurau dan
kosong dari ketakwaan. Dalam mejelis pengajian kita menangis terhadap
sesuatu yang hilang. Namun jika keluar darinya kembali pelanggaran
menggores. Kesibukan akan dunia telah mematikan hati ini dari cahaya-Nya.
Sungguh iblis bersuka ria saat kita dalam ratapan kesedihan saat
Allah mengusir dari hadapan-Nya dan tidak menemukan lagi penyebab untuk
mendekati-Nya.
Betapa banyak penyesalan tidak diiringi do'a dan tindakan
Yang seperti itu tidak lain adalah kelemahan dan kemalasan
Betapa sering aku mengulang- ulang perkataan
Perkataan yang tidak berguna jika tidak dibuktikan dengan perbuatan
--Ibnul Jauzy--
dan akhirnya...
Tirulah tingkah laku para shalihin, meskipun kita tidak termasuk golongan
mereka. Iringilah cucuran air mata dengan tarikan nafas yang dalam.
Berdirilah di kegelapan malam. Mohonlah pertolongan Allah dan berdirilah
dihadapannya untuk bertaubat.
Sore hari saat tenggelamnya mentari diufuk barat. Suratan taqdir
mengiringi terlampirnya surat ini untukmu shahabat.
Masjid UI dalam bayang senja terlihat bercahaya menerangi kegelapan.
Wallhu'alam bisshowab.
by : Ratna Triana
My love to Indri and Lily
Jazakillah untuk inspirasinya... atas kalian tulisan ini tersaji
(kutulis kembali dari percakapan kita

Posted @ [
Tuesday, November 15, 2005]

Kerikil-kerikil Dakwah
Semangat untuk terus menyebarkan kebaikan, menjalin silaturrahim, menjadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain, merupakan beberapa bagian kecil dari aktivitas kehidupan yang patut senantiasa ditingkatkan. Berbagai macam aktivitas yang memiliki nuansa berbeda pun sebaiknya dikembangkan--terkait hal tersebut--guna mendapat kesan dinamis dan tidak membosankan buat para pelaku nya.
Dakwah di masyarakat setidaknya memuat rangkaian aktivitas diatas. Kenyataan dalam praktek di lapangan yang seringkali jauh lebih berat lah yang menyebabkan hanya orang-orang terpilih yang dapat melaksanakannya.
Tujuan dakwah yang mulia harus senantiasa dilakukan pelaksanaannya dengan cara-cara yang juga mulia. Hal tersebut tentunya dimaksudkan demi nama baik dakwah itu sendiri. Setiap juru dakwah harus lah cermat dalam memperhatikan masalah ini sebagai salah satu kunci yang menentukan keberhasilan dakwah yang ia bawa. Tentunya, kepribadian sang da’i juga merupakan satu faktor dominan yang tak kalah pentingnya.
Cara-cara yang memang mulia pada awalnya pun terkadang harus dijaga benar keasliannya agar tidak ada penyimpangan ditengah-tengahnya. Dalam arti lain, tidaklah cukup perhatian diberikan pada jenis caranya saja, tapi lebih dari itu, efek dari cara tersebut pun harus jadi perhatian.
Tulisan ini dimaksudkan agar para juru dakwah lebih memperhatikan hal-hal yang lebih detail terkait dengan aktivitasnya agar hal yang kecil tersebut nantinya tidak menjadi kerikil dan menjadi sandungan pada langkah dakwah berikutnya. Sebagai contoh sederhana adalah masalah kebersihan tempat yang digunakan setelah acara silaturrahim misalnya. Muatan acara silaturrahim yang memang baik, tidak cukup hanya sekedar dikemas dengan rangkaian susunan acara yang bagus atau hidangan yang mewah, melainkan efek dari penggunaan tempat tersebut yang bisa jadi kotor karenanya, harus dipastikan bersih seperti sedia kala setelah acara selesai. Apalagi jika tempat yang digunakan tersebut adalah masjid.
Sangat riskan tentunya, jika tujuan yang tadinya mulia namun “dicederai” oleh perilaku pribadinya yang lalai akan hal-hal yang sifatnya kecil. Padahal pihak lain bisa jadi sangat memperhatikan hal yang kita anggap kecil tersebut, dalam kasus diatas mungkin pihak tersebut tentunya adalah si pengurus masjid. Bisa dibayangkan image yang bakal tertanam pada sang pengurus masjid? Apalagi jika pribadi yang lalai tersebut mengusung bendera dakwah pada silaturrahimnya.
Jikalau nama kita buruk di hadapan manusia karena memang perilaku kita yang buruk, tentu sudah sewajarnya. Tapi relakah kita jika nama dakwah ini tercemar oleh karena perilaku kita yang buruk? Sanggup kah kita bertanggung jawab dihadapan Alloh swt atas tidak diterimanya dakwah yang kita bawa oleh karena perilaku kita yang buruk?
Dinamakan kerikil karena memang ukurannya yang kecil. Namun sayang, masih saja ada orang yang tersandung karenanya atau terluka karena tajamnya.

Posted @ [
Tuesday, November 15, 2005]

Lembaran Baru
Sudah hampir dua bulan belakangan ini, hari-hariku berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Namun begitu, seringkali ku masih saja tak sadar kalau ternyata sudah ada seseorang yang mendampingi ku setiap hari. Sesosok pribadi yang terkadang membuat ku terjaga dari tidur karenanya.
Hari-hariku dipenuhi keceriaan dan kegembiraan, walaupun disatu sisi kini harus lebih cermat lagi dalam mengatur waktu. Tidak jarang dua kegiatan harus dihadiri oleh masing-masing kita di waktu yang sama. Alhamdulillah kita bisa mengatasinya dengan tanpa melalaikan tanggung jawab masing-masing.
Perasaan ini tidak bisa tergambarkan, rasa syukur senantiasa ku panjatkan kepada-Nya karena telah memberikan pasangan hidup. Ku hanya bisa berdo’a agar dapat melewati perjalanan di sisa hidupku bersamanya dengan ketenangan, ketentraman dan keberkahan.
Terkadang, terucap dari lisannya panggilan dengan julukan yang lucu terhadap ku. Aku tidak mempermasalahkannya karena ku tahu semua panggilan itu adalah panggilan atas wujud rasa sayangnya.Suamiku, bimbinglah aku, agar menjadi istri sholehah, agar kita bisa berkumpul di Jannah-Nya kelak.

Posted @ [
Tuesday, November 15, 2005]

Mengasah Kemampuan Menulis Lewat Blog
Rajin mengikuti pelatihan menulis tentunya tidak menjadi jaminan agar dapat menghasilkan karya-karya tulis. Berlatih untuk menulis sudah barang tentu merupakan aktivitas yang harus sering dilakukan untuk menjadi seorang penulis. Hal yang jarang/tidak dibahas pada waktu pelatihan menulis adalah bagaimana agar menulis itu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Atau bahkan lebih dari itu, bagaimana hasil dari tulisan tersebut memiliki nilai lebih bagi penulisnya disamping kepuasan emosional dan materi.
Menulis di blog adalah salah satu cara yang menyenangkan dibanding sekedar menulis di komputer atau media yang lain. Bagi sebagian orang, blog mungkin masih menjadi bahan yang asing untuk di dengar. Tidak jarang pula dari mereka yang tidak tahu sama sekali tentang apa itu blog.
Mendefinisikan blog tidak jauh berbeda dengan mendefinikan apakah yang dimaksud dengan website. Ada persamaan dan ada perbedaan tentunya. Keduanya sama-sama produk dari dunia maya yang diakses melalui internet, dan perbedaannya adalah blog lebih bersifat personal dibandingkan dengan website. Website yang secara umum kita kenal hanya bisa diakses dan dilihat, sementara blog isinya dapat ditentukan dan dikelola oleh kita sendiri, namun bagi orang lain tentunya hanya sebatas bisa dilihat saja. Sebagian orang mendefinisikan blog sebagai buku harian mereka di dunia maya. Namun buku harian yang tentunya ingin mereka bagi dengan kalangan umum. Lewat blog, berbagai hal dapat dilakukan, dan dalam hal ini salah satunya adalah mempublikasikan karya tulis kita. Definisi tentang blog lebih jauh dapat dilihat di link berikut:
http://enda.goblogmedia.com/apa-itu-blog.htmlMengapa menyenangkan? Memang sih menyenangkan atau tidaknya sangat bersifat pribadi. Bagi mereka yang tidak terlalu menekuni dunia maya, hal tersebut tentunya hanya biasa-biasa saja. Atau bisa jadi bagi mereka yang memang sering mengakses dunia maya hal tersebut pun tetap biasa-biasa saja. Itu semua tergantung dari selera pribadi masing-masing.
Namun tidak sedikit pula yang merasa itu menyenangkan. Baru memiliki blog sendiri saja sudah memberikan kesenangan tersendiri buat pembuatnya, apalagi kalau sudah bisa ditambah dengan aksesoris dan tulisan kita sendiri. Dengan memposting karya tulis ke blog, sang penulis akan merasa telah berhasil menduniakannya!! Bayangkan, setiap orang di belahan bumi ini yang bisa mengakses internet pasti bisa melihat tulisan kita. Rasa puasnya mungkin tidak beda jauh manakala tulisan kita berhasil masuk ke salah satu tabloid/majalah kesayangan kita. (red: ini baru sekedar rasanya lho, sengaja dibesar-besarkan, karena pertanyaan berikutnya, siapa sih yang mau mengakses ke blog kita? Diketahui oleh orang lain pun tidak, hehe.. untuk hal ini, perlu ada pembahasan lanjutan tentang bagaimana mengelola blog).
Balik lagi ke awal, dengan memposting tulisan kita ke blog dan dilihat oleh orang lain, tentunya itu menjadi nilai tambah tersendiri. Apalagi kalau tulisan itu yang sifatnya seruan ke arah kebaikan, insyaAlloh bisa diambil manfaatnya sama orang banyak. Syukur-syukur tulisan tersebut dapat memberikan inspirasi buat orang lain. Memang sih ngga mesti lewat blog kalau untuk sekedar berbagi tulisan, bukan kah kalau di posting ke milist aja udah cukup tersebar?? Yup, betul sekali! Maka dari itu blog hanyalah salah satu cara dari sekian cara menyenangkan yang lain.
Kaitan antara blog dengan mengasah kemampuan menulis tentunya sangat erat. Bagi mereka yang sudah punya blog sendiri tentunya gak akan rela kalau blog nya terlihat hampa. Salah satu cara meramaikannya tentu dengan mengisinya lewat tulisan-tulisan. Tidak ada yang memaksa harus bagus kok tulisannya, namanya juga baru berlatih, yang penting bagaimana kita bisa terus mengembangkan kemampuan itu.
Terakhir, tidak ada kata terlambat untuk belajar dan memulai sesuatu. Buat yang tertarik untuk belajar lebih jauh tentang blog, link berikut ini bisa dijadikan salah satu referensi. http://enda-aseli.tripod.com/panduan.html. InsyaAlloh ngga sulit dan ngga perlu kursus kok, modalnya hanya kemauan yang kuat. Selamat mencoba !!

Posted @ [
Tuesday, November 15, 2005]

Sami’tu wa atho’tu
Saya dengar dan saya patuh. Begitulah semestinya ungkapan dari seorang jundi atas perintah yang diberikan oleh qiyadahnya. Kedudukan seorang qiyadah dalam jamaah dakwah digambarkan oleh Alloh SWT dalam firmannya:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu…” (Q.S An-Nisa :59)
Ketaatan yang kita berikan semestinya juga sebagai konsekwensi dari keputusan kita yang telah memilihnya untuk membawa beban dakwah ini ke pundaknya. Kehormatan kita terhadapnya sungguh hanyalah karena Alloh SWT dan batasan “penguasaan” seorang qiyadah terhadap jama’ahnya juga hanya karena Alloh SWT. Meskipun kedudukan qiyadah begitu tinggi dalam Islam, namun Islam pun memberikan batasan yang tegas dalam hal loyalitas terhadap qiyadah.
Ungkapan: “tidak ada keta’atan terhadap makhluk dalam kemaksiatan terhadap Sang Khalik” adalah salah satu batasan yang tegas dalam hubungan qiyadah dan jamaah. Seorang jundi tidak boleh mematuhi perintah qiyadah ketika perintah itu sudah keluar dari bingkai mentaati Alloh dan rasul-Nya, bahkan lebih dari itu, kewajiban sang jundi lah untuk meluruskannya meski dengan pedang.
Qiyadah juga manusia yang memiliki hak untuk salah. Fungsi saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran tetap merupakan bingkai utama antara qiyadah dan jamaah. Untuk para qiyadah, sungguh tidak ada yang lebih sulit daripada berlaku adil. Untuk para jundi, cukuplah kau kritisi tugas dakwah yang diberikan qiyadah pada mu dengan pertanyaan: “Apakah (tugas) ini karena Alloh dan rasul-Nya?”, jika jawabannya “ya”, sungguh sebuah amal shaleh sedang menanti di hadapan mu.
Wallahu’alam

Posted @ [
Tuesday, November 15, 2005]


Thursday, November 10, 2005

Ramadhan dan Tarbiyah
Ramadhan sering kali diidentikkan dengan bulan pelatihan, yaitu bulan dimana setiap orang yang beriman berlatih untuk mengendalikan hawa nafsunya. Tidak jarang pula Ramadhan dijadikan sebagai sarana berlatih ibadah bagi sebagian yang lain. Tilawah Quran yang biasanya 1 juz per hari, maka di bulan Ramadhan dilatih agar terbiasa dengan 2 juz per hari. Infaq yang biasanya 1 kali dalam seminggu, kini dibiasakan untuk melakukannya setiap hari, begitu pula dengan ibadah yang lain. Standar harian yang selama ini dijalankan, dengan serta merta ditingkatkan di bulan Ramadhan sebagai momentum pelatihan sekaligus kesempatan untuk meraih pahala yang lebih besar. Dengan dijalaninya pelatihan selama bulan Ramadhan tersebut, diharapkan seseorang dapat memiliki modal ruhiyah yang cukup untuk menjalani bulan-bulan berikutnya dan telah terbiasa beribadah dengan standar yang ditetapkan selama pelatihan.
Tidak ada yang salah dengan hal tersebut tentunya. Bahkan ulama terkemuka, Syeikh Yusuf Qaradhawi sendiri menyebut Ramadhan sebagai Madrasah Mutamayyizah (sekolah eksklusif). Madrasah tersebut menerima pendaftaran peserta baru setiap tahun dari berbagai lapisan umat. Peminatnya tidak tertampung, karena daya tarik acuan kurikulum madrasah ini cukup praktis, terbukti efektif dan menjanjikan. Alumnusnya teruji dan terpuji. Teruji karena tahan uji dalam medan pengendalian diri, terpuji karena telah lulus ujian kelayakan dari makan, minum, dan berhubungan intim serta sifat sia-sia lainnya, sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.
Namun tidak ada salahnya pula jika kita melihat pendapat lain tentang bulan Ramadhan. Sebagian yang lain berpendapat, justru Ramadhan adalah saat dimana kita berlomba-lomba dalam beramal. Disinilah saatnya prestasi dikejar, dan kemenangan diraih. Di bulan ini pula Alloh SWT menjanjikan begitu besar pahala, rahmat, ampunan, dan pada akhirnya pembebasan dari api neraka. Akan sangat disayangkan ketika bulan ini dilalui “hanya” dengan berlatih. Cukuplah sebelas bulan yang lalu adalah waktu kita untuk berlatih, dan bulan ini saatnya kita memperlombakan amal saleh atas pelatihan kita.
Sejarah Islam telah mencatat bahwa beberapa peristiwa besar justru terjadi pada saat bulan Ramadhan. Salah satunya adalah peristiwa Perang Badar. Kita semua tentunya sudah mengetahui bagaimana kesudahan dari perang tersebut. Dengan izin Alloh SWT, kemenangan berada di pihak kaum muslimin. Perang terbesar yang pernah dialami kaum muslimin itu tentunya akan sulit dilakukan mana kala kaum muslimin sedang melatih imannya di bulan tersebut. Kemenangan dan keberanian kaum muslimin dalam menghadapi perang tersebut sudah barang tentu merupakan hasil dari keimanan yang telah digapainya selama ini, yaitu keimanan yang telah memuncak sehingga barisan musuh yang tiga kali lebih banyak tidak menyurutkan langkah mereka.
Ramadhan sebagai bulan perlombaan (musabaqoh), bulan yang memberikan kemenangan pada sebagian orang, dan kekalahan pada sebagian yang lain. Kemenangan tentunya diperoleh atas mereka yang dapat meraih semua kebaikan dari bulan Ramadhan, dan kekalahan tidak lain atas mereka yang lalai untuk memaksimalkan bulan Ramadhan.
Bagi mereka yang mendefinisikan Ramadhan sebagai bulan perlombaan amal shaleh, tentunya merasa bahwa kaitan antara Ramadhan dan Tarbiyah adalah dua hal yang ngga nyambung. Ramadhan bukanlah saatnya mentarbiyah diri, namun Ramadhan adalah saatnya kita melihat hasil tarbiyah yang selama ini dijalani. Maka bagi mereka yang mengalami peningkatan ibadah selama bulan ini, itulah hasil tarbiyahnya. Bagi mereka yang merasa lebih peduli terhadap sesama di bulan ini, itulah hasil tarbiyahnya.
Jadi, ingin melihat hasil tarbiyah anda? Lihatlah amal shaleh apa yang anda perlombakan di bulan ini.
Wallahu’alam

Posted @ [
Thursday, November 10, 2005]
